Krisis Kepemimpinan
Kepemimpinan, dalam artian sangat singkat, adalah ilmu mempengaruhi orang lain.Secara umum, kita dapat mengartikan apa itu krisis dan apa itu kepemimpinan. Krisis: Keadaan yg berbahaya (menderita sakit); parah sekali; keadaan yg genting; kemelut; keadaan suram (ekonomi, moral, dsb). Sedangkan kepemimpinan: perihal pemimpin; cara memimpin. (KBBI)
Dari penjelasan diatas, dapat kita tarik pengertian secara utuh, bahwa krisis kepemimpinan adalah keadaan yang berbahaya, suram dari seorang pemimpin dalam instansi/lembaga yang dipimpinnya.
Disadari atau tidak, sudah sejak lama indonesia ini mengalami krisis kepemimpinan. Peristiwa yang sangat mengingatkan kita tentang hal itu adalah kerusuhan Mei 1998 yang menelan ribuan jiwa dan merusak hampir sebagian besar fasilitas umum di kota-kota besar di Indonesia. Kerusuhan ini hanya meninggalkan duka, penderitaan, dan penyesalan. Bangsa ini telah menjadi bodoh dengan seketika karena kerugian material sudah tak terhitung lagi padahal bangsa ini sedang mengalami kesulitan ekonomi pada saat itu.
Sejak saat itu, masyarakat mendambakan sosok pemimpin yang amanah dalam menjalankan kepemimpinannya.
Sekarang, sudah banyak fakta terlihat tentang bagaimana sosok-sosok pemimpin di Indonesia. Misalnya, Bupati atau walikota adalah pemimpin daerah yang bertanggung jawab penuh terhadap daerah yang dipimpinnya, mulai soal keamanan, pendidikan, ketersediaan lapangan kerja, ketersediaan sarana dan prasarana fisik sampai soal kesejahteraan masyarakat.Tapi kenyataannya??? Banyak Bupati yang hanya mementingkan kepentingan pribadinya saja dan mengabaikan kepentingan rakyatnya.
Bila kita membahas tentang krisis kepemimpinan di Indonesia, mungkin tidak akan ada habisnya. Mulai dari presiden, gubernur, bupati, walikota, camat/kepala desa, RT/RW, sampai jajaran pemerintahan kampus. (itulah Indonesia, sangat jarang orang yang jujur dan amanah).
Banyak faktor yang mempengaruhi kepemimpinan seseorang, diantaranya adalah Faktor internal sang pemimpin dan faktor eksternal disekeliling kekuasaan sang pemimpin. Indonesia sangat kaya, selain kaya dengan SDA yang dimilikinya, indonesia pun kaya akan SDMnya. SDM yang sebenarnya berpotensi besar dalam melahirkan pemimpin-pemimpin yang berkualitas dan amanah. Karena sangat kayanya indonesia, sampai-sampai pemimpinnya pun kaya dengan berbagai tipe, dari pemimpin palsu, pemimpin “omdo”, pemimpin janji, sampai pemimpin boneka.
Tidak tahu awalnya darimana, sampai ada variasi pemimpin seperti ini. Entah dari pribadi pemimpin itu, keadaan sekeliling pemimpin, ataukah sistem yang dijalnkan pemimpin itu? wallahua’alam.
Rakyat haus akan jati diri pemimpin yang sesungguhnya, pemimpin yang benar-benar menjadi panutan bagi rakyatnya untuk melakukan hal-hal baik yang sejalan dengan nilai-nilai agama. Negeri ini krisis kepemimpinan walaupun potensi untuk melahirkan pemimpin yang baik sangat besar, tetapi terganjal oleh sistem yang korup dan mengenyampingkan sifat-sifat yang seharusnya dimiliki oleh seorang pemimpin, salah satunya adalah sifat amanah.
“Sudahkah anda menyadari bahwa ternyata disekeliling kita banyak sekali pemimpin-pemimpin boneka? “
Diambil dari beberapa pendapat tentang pemimpin:
Pemimpin adalah seorang teladan bagi masyarakatnya dalam semua hal, seperti perilaku, ilmu, dan kehidupannya. Lebih dari itu, ia juga seorang visioner yang mampu membawa masyarakat yang dipimpinnya menjadi masyarakat yang diinginkan di masa depan. Ia mesti mempunyai prediksi dan strategi langkah yang akan dilakukan untuk menghadapi tuntutan dan tantangan zaman.
Seorang pemimpin daerah tentu dituntut menguasai kompleksitas persoalan daerah yang dipimpinnya. Tanpa itu, ia tidak akan mampu mengambil atau merumuskan strategi pemecahan masalah yang pasti tidak sedikit. Selain itu, seorang pemimpin harus mampu bertindak adil bagi masyarakatnya. Keadilan merupakan dambaan bagi setiap orang. Jika seorang pemimpin bisa bertindak adil, ia akan dikenang masyarakatnya.
Pemimpin adalah pelayan masyarakat. Karena itu, seorang pemimpin yang baik selalu berpikir bagaimana memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakatnya. bagaimana mungkin seseorang bisa menjadi pemimpin yang baik jika tidak memiliki jiwa sebagai “pelayan” atau malah selama ini dia dilayani oleh masyarakat. Dia dielu-elukan masyarakat karena popularitasnya, kepiawiannya menyanyi, kecantikan dan kemolekan tubuhnya dan sebagainya.
Yang tidak kalah pentingnya adalah pemimpin harus senantiasa berorientasi pada kebaikan rakyat yang dipimpinnya. Setiap langkahnya harus bermuara pada kebaikan tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi rakyatnya. Menurut al Qur’an, seorang pemimpin bukan hanya pintar secara akademik, tetapi juga memiliki ideologi agama yang kuat dan memberi contoh perilaku Islami kepada rakyatnya. Sebab, nilai-nilai agama yang dianut seorang pemimpin akan membentuk cara dan paradigma berpikirnya serta setiap keputusan yang akan diambil
Windi Agustinasari
